Latest Updates

Tampilkan postingan dengan label Program Pencerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Program Pencerah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 April 2018

“ENGLISH FUN”, METODE KELAS BELAJAR PADA ANAK-ANAK PANGGANGSARI

0 komentar


Menyenangkan saat berbagai ilmu dengan anak-anak yang luar biasa keinginan untuk belajarnya.

         Kegiatan kelas belajar merupakan kegiatan yang rutin dilakukan setiap minggunya. Kelas belajar ini diikuti oleh anak-anak panggangsari yang sangat bersemangat untuk memperlajari tentang bahasa inggiris. Setelah pindah rumah, kegiatan ini jarang dilakukan hingga 2 bulan terakhir. Seminggu, anak-anak belajar dengan pencerah nusantara sebanyak 2 – 3 kali. Kegiatan dibawah ini terakhir kalinya 
Foto terakhir kak Ana bersama anak-anak sekaligus memberikan kenangan buku English Fun untuk Rumah Belajar Panggangsari

      Orangtua anak-anak juga sangat senang dengan kehadiran kami yang datang untuk melaksanakan kelas. Anak-anak yang diajar juga beragam, ada yang masih SD, SMP dan bahkan TK atau belum sekolah. Mereka bersemangat karena melihat temannya yang lain. Materi yang diajarkan juga bermacam yaitu perkenalan dasar, mengenal lingkungan sekitar, menanyakan kabar, mengenal peralatan sekitar mereka. Mereka menerima pelajaran dengan baik dan sebelum pelajaran dimulai, akan dilakukan review pelajaran sebelumnya. 
Anak-anak sedang belajar dengan kak Ina tentang "Fruits"
Aira, belajar mengenal huruf dan belajar menggambar bersama Kak Ana

Anak-anak bermain setelah belajar
Sebelumnya, mereka tidak hanya belajar bahasa inggris, tetapi juga Matematika dan Pelajaran dasar lainnya. Namun, anak-anak ini lebih tertarik dengan bahasa inggris sehingga kita fokus untuk mengajarkan bahasa inggris dengan metode menyenangkan. Metodenya yaitu melihat langsung alam, bermain, bernyanyi, video, mengoreksi temannya, dan lain-lain. 

Kegiatan ini biasa dilakukan sore hari saat anak-anak selesai Mengaji di Musholla Panggangsari. Tetap semangat anak-anak ku, “hafal kaji karena diulang”.  Selalu mengulang materi yang diberikan dan jangan pernah berhenti untuk belajar dan mengajarkan. sayangnya, tidak ada aktor lokal yang meneruskan kegiatan ini sehingga apa yang dipelajari, takutnya bisa lupa. 


“Jadilah seperti air hujan, yang mengaliri sawah untuk memanen padi yang perlu menunggu”
Penulis: S.Sitorus
“Tunjukkan Baktimu, Mulai Aksimu”
#LosariSehat #SayaPencerah #PencerahNusantara #Panglima #Kamibergerak #PN5Cirebon #PuskesmasLosari #Menginspirasi #Berbagi #BahagiaSederhana

Sabtu, 01 Juli 2017

CLOSER WITH PN5 “BIOGRAFI TIM PENCERAH NUSANTARA 5 CIREBON”

0 komentar


Pencerah Nusantara Angkatan 5 (PN 5) berasal dari berbagai wilayah dengan karakter dan budaya yang berbeda. PN 5 ini berfokus pada implementasi program yang sebelumnya telah dianalisis berdasarkan survey yang dilakukan oleh PN4. Program Pencerah Nusantara terbagi atas Kesehatan Ibu dan Anak (Akbino dan KIA Sehati), Gizi (Bika Sergap Sazi), Manajemen Puskesmas (Pendampingan Akreditasi/ PERAK, Pegawai Internal Berkualitas/ PINTAS, Pengawasan Manajemen Obat/ PMO) dan Program pengembangan (REAKSI dan Posyandu Lansia)


Amelia Hidayah
Amelia Hidayah lahir di Lolo, Sumatera Barat, 5 Januari 1994. Amel merupakan alumni Program Studi Gizi FKM UI. Semasa kuliah, ia aktif di kegiatan kampus seperti di BEM FKM UI dan UIAC dan juga memiliki kecintaan terhadap dunia sosial dan penelitian. Menjadi sebuah prestasi bagi Amel ketika hasil kegiatan sosial dan penelitiannya yang berjudul “Public Health Approaches towards Sustainable Development” dipresentasikan di 6th Asia Pasific Conference on Public Health (APCPH). Menurutnya, masalah gizi di Indonesia harus mendapat perhatian serius karena telah mencapai double burden of malnutrition. Menjadi Pencerah Nusantara baginya adalah wujud rasa cintanya terhadap kegiatan sosial, rasa terima kasihnya kepada rakyat yang telah membantu mewujudkan cita-citanya melalui beasiswa Bidikmisi, serta untuk mengaplikasikan ilmu yang didapatnya di bangku kuliah.



Ibnu Wahyu Najatullah
Ibnu, begitu ia biasa disapa, adalah Ners lulusan Universitas Tanjungpura Pontianak tahun 2016. Lahir di Bengkayang, Kalimantan Barat, pada 6 Juni 1993, awalnya Ibnu bercita-cita sebagai guru. Namun, karena keinginan Ibunda yang menginginkan salah satu anaknya berkecimpung di dunia medis, maka Ibnu memutuskan untuk mendalami pendidikan keperawatan. Saat ini, Ibnu percaya bahwa kegiatan kuratif saja tidak cukup untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Mengikuti Pencerah Nusantara menjadi sebuah platform bagi Ibnu untuk memperkuat kegiatan promotif dan preventif agar masyarakat mampu mengakses kesehatan secara mandiri.



Maria Ulfa Nur Hidayanti
Maria lahir di Blora, 28 Agustus 1994. Anak sulung dari dua bersaudara ini adalah bidan lulusan Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga. Selama kuliah, Maria aktif di organisasi kemahasiswaan seperti HIMAWARRY, BEM FK Universitas Airlangga, FORISMA dan IKAMABI. Maria, yang pada dasarnya menyukai tantangan, sangat ingin mengabdikan diri untuk berkontribusi guna meningkatkan status kesehatan masyarakat. Hal ini didasari pengalaman pribadi Maria yang merasa terpanggil setelah melihat betapa beratnya perjuangan seorang bidan dalam menolong proses persalinan. Maria juga melihat sendiri betapa ketimpangan pembangunan membatasi masyarakat untuk mengakses fasilitas kesehatan. Hal ini yang menggerakkannya untuk turut ambil bagian dalam program Pencerah Nusantara. Gadis yang mempunyai hobi membaca novel ini, juga memiliki cita-cita untuk dapat melanjutkan studinya serta dapat menjadi bagian dari pembuat kebijakan kesehatan di negeri ini.

Mifthahul Jannah
Dara Minang kelahiran Payakumbuh, 4 Mei 1991, yang dikenal dengan nama Fina ini adalah dokter umum lulusan Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas. Kecintaannya terhadap dunia sosial terlihat dari berbagai organisasi dan aktivitas yang ia ikuti semasa kuliah seperti BEM FK Unand, SCOPH CIMSA, bakti sosial, sunatan massal dan pembinaan dokter kecil. Penerima beasiswa Karya Salemba Empat ini juga pernah terpilih sebagai Project Officer Asian Community Health Project IFMSA Japan-CIMSA Indonesia dan mengikuti Professional Student Exchange IFMSA ke Carregi Hospital, Italia tahun 2013. Pengalaman internship di salah satu puskesmas di Sumatera Barat membuatnya sadar bahwa permasalahan kesehatan tidak dapat diselesaikan dengan hanya berdiam diri. Dengan mengikuti Pencerah Nusantara, Fina percaya bahwa ia telah mengambil langkah kecil dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sehat.

Syafriana Sitorus
Gadis kelahiran Tanjungbalai, Sumatera Utara, 1 Juli 1995 ini adalah Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional dan internasional. Ia dipercaya untuk memegang beberapa proyek penelitian seperti TB CEPAT, HIV, SUFA, PHBS, dan Penyakit Tropis. Baginya, mengikuti Pencerah Nusantara adalah panggilan hati untuk menjadi cahaya yang menerangi bagian kecil Indonesia. Selama ini, tenaga kesehatan hanya berfokus pada wilayah perkotaan dan seringkali tenaga kesehatan bekerja tanpa dukungan infrastruktur yang memadai sehingga esensi 3 pilar kesehatan masih timpang. Setelah menggali pengalaman bersama Pencerah Nusantara, ia berencana untuk bisa belajar lebih mendalam mengenai “Health Management or Public Policy” di Australia. Harapannya, ilmu yang ia miliki bisa diaplikasikan untuk membangun kampung halaman dan Indonesia.


“Jadilah kertas kosong yang bisa ditulisi, sebab ia akan menjadi buku yang akan memberikan cahaya untuk orang lain”..


Penulis: S.Sitorus
Fotografer: Adin Losari
“Tunjukkan Baktimu, Mulai Aksimu”
#LosariSehat #SayaPencerah #PencerahNusantara #Panglima #Kamibergerak #PN5Cirebon #PuskesmasLosari #KolaborasiProfesi

Senin, 30 Mei 2016

MENGENAL LEBIH DEKAT TIM PENCERAH NUSANTARA LOSARI, CIREBON

0 komentar

Losari, 30 Mei 2016. Seperti halnya urusan jodoh yang tidak bisa memilih pun menolak, kami pun dipersatukan tanpa bisa memilih pun menolak dalam sebuah ikatan keluarga baru: Tim Pencerah Nusantara Losari, Cirebon. Dan seperti urusan jodoh pula, siapapun orangnya, kami percaya bahwa ketika takdirnya kami harus bersatu, maka kami adalah kombinasi terbaik. Yaitu kombinasi terbaik  yang bisa diberikan oleh CISDI sebagai perantara tangan Tuhan untuk Puskesmas Losari, tempat di mana kami akan mengabdi setahun ke depan.
Kami terdiri dari 5 orang yang kebetulan berlatar belakang kesehatan semua, yaitu seorang dokter, seorang perawat, seorang bidan, seorang ahli kesehatan masyarakat dan seorang pemerhati kesehatan yang juga berasal dari bidang kesehatan masyarakat pula. 

Mari mengenal lebih dekat anggota kami.

dr. SUJIE PRATIWI 


dr. Sujie Pratiwi, adalah seorang dokter umum lulusan Universitas Syah Kuala Banda Aceh. Perempuan yang akrab dipanggil Sujie dan berdarah Minang ini lahir serta besar di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Ia yang pada awalnya tidak bercita-cita ingin menjadi dokter dan ingin terjun ke jurusan tehnik, pada akhirnya kini justru ingin mengejar ilmu lebih jauh di dunia kedokteran, dengan keinginan yang kuat untuk bisa menjadi dokter spesialis anak. Sebelum terjun sebagai dokter di Pencerah Nusantara, dr. Sujie pernah menyelesaikan masa internship di Nanga Pinoh, Kalimantan Barat selama 1 tahun. Menjadi salah satu pencerah sebenarnya tidak ada dalam target hidupnya, namun kemudian ia justru jatuh cinta dengan Pencerah Nusantara dan segala sesuatu yang ada di dalamnya setelah ia mengikuti masa pelatihan selama 7 minggu sebelum penerjunan ke penempatan. Baginya, Pencerah Nusantara adalah jalan untuk mengabdikan diri dan ilmunya dalam hal kegiatan promotif dan preventif. Menjadi anggota tertua dari tim Cirebon bukan masalah baginya, sebab ia masih berjiwa muda. Namun demikian, usia tidak bisa berbohong, Mandeh (sapaan akrab lainnya yang berarti Ibu dalam bahasa Minang) selalu bisa memberikan petuah, petunjuk, solusi dan sebangsanya yang cukup bijaksana dengan berbagai pertimbangan logisnya.

ADIL MAHESA, Amd. Kep



Adil Mahesa, Amd. Kep, merupakan leader dari tim ini. Satu-satunya perawat laki-laki di Pencerah Nusantara Batch 4 ini merupakan kelahiran tahun 1995, dan tentu, sudah bisa dipastikan bahwa  Dedek Adil, sapaan akrabnya, masuk ke dalam kelompok dengan usia termuda di angkatan Pencerah Nusantara tahun ini. Adil berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat. Lulusan Poltekkes Kemenkes Pontianak ini semasa kuliahnya aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Salah satu rahasia umum yang harus diungkap dari Adil, adalah bahwa ia tidak bisa mengucapkan huruf ‘R’ alias cadel. Namun demikian, hal ini justru menjadi kelebihan baginya ketika harus berbicara dalam bahasa Inggris. Yup, it’s become his point plus!

FIRLYA RAHMA ROMISE MSH, S.T. Keb



Firlya Rahma Romise MSH, S.T. Keb atau akrab dipanggil bidan Firly oleh teman-temannya. Perempuan kelahiran tahun 1993 ini merupakan keturunan Jawa yang tumbuh besar di Toili, Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah. Tak heran jika meski tinggal di Sulawesi, ia masih fasih berbahasa Jawa dalam kesehariannya. Hal ini cukup membantu dalam beradaptasi di lokasi penempatan, mengingat bahasa yang digunakan oleh masyarakat di Kecamatan Losari adalah bahasa Jawa, meskipun dengan aksen yang berbeda. Bergabung dengan tim Pencerah Nusantara bukanlah pilihan mudah bagi Firly, sebab sebelumnya ia sudah menjadi pengajar di sebuah sekolah kebidanan di daerahnya setelah lulus dari Poltekkes Kemenkes Gorontalo. Namun demikian, kesempatan untuk bergabung dengan Pencerah Nusantara tidak ingin dilewatkannya begitu saja. Sebab, baginya, bagian terpenting dalam hidup bukanlah untuk menjadi orang hebat, melainkan menjadi bermanfaat.

SOFWATUN NIDA, S.KM


Sofwatun Nida, S.KM atau akrab dipanggil Nida. Lulusan UIN Syarif Hidayatullah ini lahir tahun 1992 ini dan berdarah murni Betawi. Ia bukan merupakan satu-satunya tenaga kesehatan masyarakat di tim ini, namun ini bukan berarti tak menjadikannya istimewa. Ia istimewa, dengan keilmuan epidemiologi yang sudah dipilihnya di semester 4 bangku kuliah dan juga pengalamannya tentang mengurus data survei kuantitatif. Berbekal pengalaman keorganisasian yang cukup mumpuni di bidang sumber daya manusia selama kuliah, ia cukup handal dalam ‘membaca’ orang. Selain itu, ia juga berkepribadian keibuan, yang mana hal ini menjadi salah satu keuntungan bagi anggota tim Cirebon lain saat berbelanja kebutuhan rumah tangga hingga memasak. Oleh karenanya, sudah bisa dipastikan bahwa Nida merupakan pilihan yang tepat untuk dijadikan sebagai bendahara sepanjang hayat dari tim Cirebon.

UMMU NAFISAH, S.KM


Dan terakhir, Ummu Nafisah, S.KM. Perempuan kelahiran 1992 di Kediri, Jawa Timur ini biasa dipanggil Ummu sejak kelas 3 sekolah dasar. Ia mengisi posisi pemerhati kesehatan dalam kombinasi interprofesi tim Cirebon. Berbekal mengambil peminatan Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, diharapkan sedikit banyak ilmunya dapat bermanfaat untuk menguatkan manajemen Puskesmas. Ummu merupakan anggota tim yang katanya berekspresi paling datar, sebab ketika ditanya pendapat tentang segala sesuatu sering berkata ‘hmm... biasa saja’. Sedikit klarifikasi darinya tentang hal itu, Ummu memang sering memiliki sudut pandang berbeda dari kebanyakan orang dan tidaklah ekspresif. Namun demikian, dengan kemampuan tersebut, ia justru menjadi anggota yang paling tahan ‘mendengarkan’ orang ketika yang lain sudah bosan dan terkantuk-kantuk. Pendapat dari anggota lain tentang Ummu, adalah bahwa ia rajin sekali membuat catatan dalam berbagai kesempatan. Dari sanalah anggota lain kemudian menunjuknya sebagai sekretaris tim. Meskipun sebenarnya, klarifikasi lagi darinya, hal itu dilakukan karena ia mudah lupa dan menulis adalah salah satu metodenya untuk mengingat. Dapat bergabung dengan tim Pencerah Nusantara adalah sebuah kesempatan baginya untuk menjadi bermanfaat bagi bangsanya sendiri yang selalu ia banggakan.

Dari paparan profil kami di atas, kami terlihat berbeda, tentu saja. Sebuah hal mutlak yang harus kami terima. Mulai dari karakter kepribadian hingga disiplin ilmu. Namun lagi-lagi, seperti kekayaan Indonesia akan perbedaannya, perbedaan memang bukanlah suatu hambatan, melainkan adalah justru sesuatu yang harus dibanggakan. Maka, kami di sini bangga dengan perbedaan yang kami punya, dan akan belajar mengerti satu sama lain hingga sampai pada suatu titik penerimaan yang paripurna (semoga). Satu hal yang harus digaris tebal, yaitu bahwa perbedaan bukan untuk didebat, melainkan untuk saling diberi hormat. Saling mengerti, saling memahami, saling bertoleransi.

Bagaimana? Sudah merasa dekat dengan kami? Bila belum, boleh langsung menghubungi contact person masing-masing saja yaa ;)

Salam sehat dan semangat dari tim Cirebon untuk para sahabat Pencerah Nusantara yang ada di seluruh Indonesia.

Tim Cireboooon, always ON!

Losari, Kami Datang!

0 komentar

Losari, 30 Mei 2016. Genap dua puluh hari sudah semenjak menginjakkan kaki di wilayah Puskesmas Losari, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon. Ya, di wilayah inilah kami, salah satu dari 9 tim Pencerah Nusantara Batch IV akan ditempatkan selama setahun ke depan. Tepatnya pada tanggal 10 Mei 2016 lalu, kami diberangkatkan dari kantor CISDI (Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives) yang terletak di Jalan Cikini Kecil, Jakarta Pusat, untuk menuju lokasi penempatan. CISDI sendiri adalah sebuah NGO (Non Governmental Organization) yang melanjutkan perjuangan KUKPRI (Kantor Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk MDG’s) untuk menaungi program Pencerah Nusantara.

Pada tahun ini, memang lokasi penempatan dari program Pencerah Nusantara dibuka di 9 ‘lahan’ baru, berbeda dari penempatan sebelumnya. Kebetulan, lokasi penempatan yang paling dekat dari ibukota negara, adalah Kabupaten Cirebon. Oleh karenanya, berbeda dari pemberangkatan teman-teman penempatan lain yang sudah berangkat sehari sebelumnya dengan menggunakan jalur udara, kami menjadi satu-satunya tim yang menuju lokasi via jalur darat saja.

Tepat pada pukul 06.00 WIB di pagi itu, kami pun bertolak dari Museum Listrik dan Energi Baru TMII, tempat kami mendapat pelatihan selama 7 minggu sebelumnya. Ritual pemberangkatan yang kami dapat pun tentu berbeda dari tim yang lain. Sebatas lambaian tangan pun sudah tidak ada, apalagi pelukan hangat, atau cucuran air mata seperti ritual yang terjadi di bandara Soekarno Hatta, menjelang jadwal dimana mereka diharuskan untuk ‘terbang’ satu per satu menuju lokasi penempatan. Untunglah masih ada beberapa fasil yang berbaik hati membantu kami mengangkat barang bawaan ke travel dan kemudian melepas kami dengan senyuman serta kehangatan. Terimakasih banyak fasil! :)

Sekitar pukul 07.45 WIB kami sudah berhasil menembus kemacetan Jakarta dan sampai di kantor CISDI. Pada hari itu, kami sekaligus dijadwalkan untuk bertemu terlebih dahulu dengan jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon dan Kepala Puskesmas Losari. Ritual ini berbeda lagi dengan tim lain yang sebelumnya sudah mengadakan pertemuan dengan pihak Dinas Kesehatan atau Pemerintah Daerah setempat di Hotel Akmani, pada tanggal 27 April 2016.

Sembari menunggu kedatangan, kamipun akhirnya mendapatkan kesempatan short tourism untuk berkeliling di kantornya para orang hebat. Tidak bisa dibohongi memang, kantornya kecil. Namun, kami mendapati sebuah bukti disini, bahwa besar kecilnya kantor tidak membatasi lahirnya ide-ide hebat. Tidak bisa dipungkiri, Pencerah Nusantara Batch 4 digodog di kantor tersebut. Sebuah kehormatan bagi kami sebagai satu-satunya tim yang pada akhirnya diajak berkunjung dan melihat ‘isi’ dari kantor. Pertanyaan yang menggelayut sejak dua bulan lalu tentang ‘dimana dan bagaimana bentuk kantor’ dari organisasi yang menaungi kami ini pun akhirnya terjawab, yeay!


Sekitar pukul 10.00 WIB, rombongan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon pun datang. Total ada 4 orang yang kami jumpai pada pertemuan itu; Bapak H. Moh. Sofyan, SH., MH. selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Ibu Yuswati selaku Kabid Yankesfar, dr. Sutara selaku calon pembina tim Pencerah Nusantara dari pihak Dinkes dan Bapak Hermanto selaku Kepala Puskesmas Losari. Diskusi pun bergulir diantara kami untuk kemudian membuat beberapa kesepakatan antara kedua belah pihak; CISDI dan Dinkes Kabupaten Cirebon. Diskusi tersebut berjalan cepat, sebab rombongan harus segera mengikuti jadwal kereta menuju Cirebon yang sudah dipesan sebelumnya. Pada pukul 11.30 WIB, pertemuan tersebut pun berakhir.

Setelah melepas kepulangan rombongan, kami pun turut segera bergerak untuk mengejar janji pertemuan dengan Pak Heng (sapaan hangat untuk Kapus Losari) yang akan menjemput kami sesampainya nanti di Cirebon. Perjalanan Jakarta-Cirebon kami tempuh dalam waktu kurang lebih 5 jam perjalanan. Meleset 2 jam dari perkiraan awal, sebab sempat terjebak kemacetan di beberapa titik. Kami pun sampai di Cirebon sekitar pukul 20.00 WIB, dan disambut oleh Pak Heng untuk kemudian diajak makan malam bersama.

Setelah mengisi perut dan kenyang, kami diajak untuk menuju ke rumah staff Puskesmas, yaitu Bidan Ruki dan Perawat Rina, untuk dititipkan beberapa malam, sebab persiapan untuk tempat tinggal belum selesai. Kesempatan yang bagus menurut kami, karena dengan menginap, kami jadi bisa mengenal lebih dekat beberapa staff puskesmas dengan lebih cepat. Obrolan ringan pun bergulir di antara kami, sebelum pada akhirnya kami dipisah menjadi dua kubu: kubu perempuan tinggal di rumah Perawat Rina, dan kubu (satu-satunya) lelaki tinggal di Rumah Bidan Ruki. Perasaan kami campur aduk, malam pertama tinggal di penempatan, terharu dan sekaligus senang menjadi satu. Semoga seperti itu pulalah kami setahun ke depan, membaur dan tercampur aduk dengan segala situasi yang terjadi di Puskesmas Losari dan masyarakat di wilayahnya, merasakan yang mereka rasakan, dan menjembatani berbagai belah pihak untuk bisa turut memperbaiki yang bisa diperbaiki menuju situasi kesehatan yang lebih baik.

Berputar kembali kebeberapa jam sebelumnya. Sebelum keberangkatan, kami sempat mendapat sebuah sesi khusus, dimana sesi ini tidak didapati pada ritual pemberangkatan tim yang lainnya, yaitu sesi motivasi oleh jajaran CISDI, terutama oleh Ibu Diah Saminarsih dan Kakak Anindita Sitepu. Satu kalimat yang kami pegang pada waktu itu, adalah “Bahwa ini bukan tentang ‘kita’, tapi tentang ‘mereka’.” Sebuah kalimat kunci yang akan kami jadikan bekal dalam menghadapi apapun yang akan terjadi di lapangan nanti. Sebuah kalimat pengingat, bahwa tujuan kami datang ke lokasi penempatan adalah untuk membaur dengan masyarakat, melihat, mendengar dan merasakan apa yang mereka rasakan terutama tentang kesehatan, dan bukan untuk ikut-ikut mengeluh. Kami, harus terus bergerak, dan bekerja untuk masyarakat Losari.

Pada akhirnya, untuk barisan para Pencerah Nusantara di manapun kita berada, let’s start our journey: TUNJUKKAN BAKTIMU, MULAI AKSIMU!










Blog Archive